Lintas12.com, Mississippi USA – Nissan batalkan dua electric SUV untuk pasar AS karena permintaan menurun. Pabrikan beralih ke hybrid dan PHEV. Simak strategi terbarunya hanya di laman Lintas 12 News.
Kabar mengejutkan datang dari pabrikan otomotif asal Jepang, Nissan. Perusahaan secara resmi membatalkan rencana peluncuran dua model SUV listrik (electric vehicle/EV) untuk pasar Amerika Serikat yang sebelumnya akan dirakit di pabrik Canton, Mississippi.
Keputusan ini diambil sebagai respons terhadap perubahan kondisi pasar, permintaan konsumen yang menurun, serta penyesuaian arah strategi perusahaan yang diumumkan pada pertengahan April lalu. Demikian dikonfirmasi oleh juru bicara Nissan Amerika Utara, Jennifer Swanner, dikutip dari WardsAuto.
Alasan Utama: Pasar EV AS Melambat
Pembatalan dua listrik SUV Nissan ini terjadi di tengah lesunya permintaan kendaraan listrik murni di AS, terutama setelah berakhirnya insentif pajak federal (tax credit) pada 30 September 2025. Sejak saat itu, penjualan EV di Negeri Paman Sam merosot tajam.
Nissan menegaskan bahwa langkah ini diambil agar “lebih selaras dengan kondisi pasar, permintaan pelanggan, serta arahan strategis terbaru” perusahaan. Alih-alih memaksakan EV, Nissan kini memilih untuk fokus mengembangkan teknologi e-Power hybrid generasi terbaru, plug-in hybrid (PHEV), serta extended-range powertrain sebagai jembatan menuju elektrifikasi penuh di masa depan.
“Nissan tetap berkomitmen penuh pada AS sebagai pasar utama dan fondasi pertumbuhan berkelanjutan. Pendekatan kami bertumpu pada kepemimpinan di segmen kendaraan besar, jejak manufaktur yang kuat, serta beragam solusi powertrain yang benar-benar diinginkan pelanggan,” demikian pernyataan resmi Nissan.
Investasi Ratusan Juta Dolar Menguap?
Sebelumnya pada awal 2022, Nissan mengumumkan investasi sebesar US$500 juta untuk pabrik Canton, Mississippi, yang dirancang sebagai pusat produksi EV di AS. Dua SUV listrik yang dibatalkan tersebut—satu untuk merek Nissan, satu lagi untuk merek mewah Infiniti—seharusnya mulai diproduksi pada 2028.
Namun, pada Juli 2025, Nissan sempat menunda produksi keduanya dengan alasan pertimbangan internal. Kini, pembatalan total resmi diumumkan.
Pabrik perakitan Nissan lainnya yang berada di Smyrna, Tennessee, juga akan terdampak oleh perubahan strategi ini, meski belum ada rincian lebih lanjut soal alokasi produksi.
Bukan Hanya Nissan: Gelombang Pembatalan EV Melanda AS
Penyebab Nissan batalkan electric SUV tidak berdiri sendiri. Selama setahun terakhir, sejumlah raksasa otomotif dunia juga merevisi strategi elektrifikasi mereka setelah mengalami kerugian miliaran dolar akibat permintaan EV yang lesu:
- Ford mengumumkan pergeseran besar ke kendaraan extended-range hybrid dan model truk bermesin bensin baru, dengan biaya non-rutin sekitar US$5,5 miliar akibat pembatalan program EV.
- GM melaporkan penurunan laba bersih 55% (US3,3miliar) pada 2025, terutama karena biaya terkait EV sebesar US6 miliar di kuartal IV.
- Stellantis mencatat rugi bersih €22,3 miliar (US$26,3 miliar) untuk tahun fiskal 2025 setelah write-down EV miliaran dolar dan kembali fokus ke model bensin/diesel.
- Honda juga membatalkan tiga model EV untuk AS, yaitu 0 Series Saloon, 0 Series SUV, dan Acura RSX.
Strategi Baru Nissan: AI dan Mobil Hybrid Andal
Nissan kini mengusung strategi jangka panjang bernama “Mobility Intelligence for Everyday Life” yang berfokus pada tiga pasar utama: Jepang, AS, dan China. Strategi ini menekankan portofolio kendaraan bertenaga AI yang lebih ramping dengan powertrain elektrifikasi baru.
Perusahaan akan menghentikan model-model berpenjualan rendah dan mengalihkan investasi ke area pertumbuhan lebih tinggi.
Salah satu produk unggulan untuk pasar AS adalah Rogue hybrid baru yang akan bersaing di segmen SUV ukuran sedang yang sangat kompetitif. Nissan mengklaim teknologi e-Power generasi terbaru akan memberikan “pengalaman berkendara seperti mobil listrik” tanpa perlu khawatir dengan keterbatasan infrastruktur pengisian daya.
Target 1 Juta Mobil per Tahun di AS pada 2030
Nissan menargetkan penjualan 1 juta kendaraan per tahun di AS pada 2030, dengan fokus pada kendaraan yang lebih besar dan jejak manufaktur yang direvisi. Rincian lebih lanjut tentang strategi baru ini akan diumumkan saat perusahaan melaporkan hasil keuangan tahunan penuh pada Mei mendatang.
Dengan langkah ini, Nissan semakin menunjukkan bahwa masa depan otomotif tidak melulu tentang full EV, tetapi juga tentang hybrid, PHEV, dan fleksibilitas teknologi yang sesuai dengan keinginan pasar. (*Dik*)




