Lintas12.com, Washington DC – Demokrat AS pertimbangkan gugatan ke Trump soal perang Iran. Batas waktu 60 hari habis, ancaman resesi global mengintai. Baca kabar berita selengkapnya di laman Lintas 12 News.
Puluhan kader Partai Demokrat di Kongres Amerika Serikat dikabarkan tengah mempertimbangkan langkah hukum berupa gugatan terhadap Presiden Donald Trump terkait kebijakan perang melawan Iran. Gugatan ini muncul setelah Trump mendekati batas waktu 60 hari tanpa otorisasi legislatif yang sah.
Batas Waktu 60 Hari Hampir Habis
Tanggal 1 Mei menandai 60 hari sejak Trump memberi tahu Kongres tentang perang melawan Iran yang dimulai pada 28 Februari. Berdasarkan ketentuan hukum, setelah periode ini presiden wajib mendapatkan persetujuan legislatif untuk melanjutkan aksi militer atau mengonfirmasi secara tertulis bahwa tambahan waktu 30 hari diperlukan untuk menarik pasukan secara aman.
Hingga berita ini diturunkan, Demokrat pertimbangkan gugatan ke Trump perang Iran sebagai opsi akhir jika jalur legislatif gagal. Menurut laporan Majalah Time pada Selasa (30/4), para anggota Demokrat belum mengambil keputusan final terkait gugatan tersebut dan masih mengupayakan berbagai langkah legislatif terlebih dahulu.
Adam Schiff Kembali Dorong Resolusi Batas Kekuasaan Presiden
Senator Adam Schiff, yang dikenal vokal terhadap kebijakan luar negeri Trump, berencana menggelar pemungutan suara lain terkait resolusi pembatasan kekuasaan presiden dalam perang pekan ini. Ini merupakan upaya lanjutan setelah resolusi serupa sebelumnya berulang kali ditolak oleh Senat.
“Serangan AS-Israel ke Iran dinilai memiliki risiko eskalasi tinggi dan melanggar prosedur konstitusional,” ujar puluhan kader Demokrat dalam pernyataan bersama. Namun, tekanan mereka belum membuahkan hasil di Senat yang dikuasai Partai Republik.
Trump Diperkirakan Cari Celah Perpanjang Masa Perang
Laporan sebelumnya menyebutkan bahwa Trump diperkirakan akan mencari cara untuk memperpanjang perang melampaui batas hukum 60 hari. Mantan Letnan Kolonel Angkatan Darat AS, Earl Rasmussen, menyatakan kepada RIA Novosti bahwa Trump berada dalam situasi tanpa jalan keluar yang baik.
“Trump akan mencoba mencari perpanjangan tambahan. Jika dia menarik pasukan, itu tidak akan terlihat baik secara politik. Dia kemungkinan akan menggandakan ancamannya, tapi hasil yang paling mungkin justru lebih buruk,” ujar Rasmussen.
Serangan Awal ke Iran Disebut ‘Salah Perhitungan Besar’
Rasmussen menilai keputusan awal menyerang Iran sebagai salah perhitungan besar. Menurutnya, tekanan berkelanjutan dari “Israel” dan segmen elite politik AS bisa mendorong pemerintahan Trump menuju konfrontasi lebih jauh, bukan de-eskalasi.
“AS mencoba menghindari kemunduran strategis, karena ekspektasi bahwa Iran akan menyerah tidak realistis. AS mencari jalan apapun untuk menghindari kekalahan, tapi kemungkinan besar harus mengakuinya,” tambahnya.
Eskalasi Perang Ancam Ekonomi Global dan Resesi
Yang lebih mengkhawatirkan, Rasmussen memperingatkan bahwa eskalasi perang Iran dapat memicu dampak global yang parah, terutama terhadap ekonomi. “Presiden Donald Trump tahu bahwa eskalasi lebih lanjut kemungkinan besar akan menjerumuskan dunia ke dalam resesi atau depresi global.”
Sejak pertengahan April, Washington meningkatkan kampanye tekanan termasuk blokade angkatan laut di Selat Hormuz, yang dianggap sebagai ancaman langsung terhadap aliran energi dunia.
Iran Tetap Siaga Perang
Sementara itu, pihak militer Iran menegaskan kesiapan mereka. Juru bicara angkatan darat Iran, Mohammad Akraminia, menyatakan bahwa perang belum berakhir. “Kondisi masih dianggap sebagai masa perang,” ujarnya, seraya mengonfirmasi bahwa para perencana militer terus memperbarui bank target dan peralatan operasional sebagai persiapan menghadapi potensi eskalasi.
Kesimpulan:
Dengan batas waktu 60 hari yang hampir habis, langkah Demokrat mengajukan gugatan ke Trump bisa menjadi babak baru dalam krisis konstitusional AS. Namun, di tengah ancaman resesi global dan kesiapan perang Iran, dunia kini menunggu langkah Trump berikutnya: menarik mundur pasukan, atau justru menggandakan eskalasi. [*Sod]







