Berita seputar Serangan dahsyat Iran ke Dimona dan Arad, menyakitkan bagi penduduk Israel, hanya di situs Lintas 12 News: Berita Pilihan Terpercaya.
Dalam analisis terhadap situasi di Israel, peneliti dan analis politik Imad Abu Awad mengatakan bahwa berlanjutnya serangan Iran melemahkan narasi resmi Israel mengenai melemahnya kemampuan Teheran.
“Hal itu akan semakin memperburuk ketidakmampuan Israel untuk meyakinkan publik bahwa mereka telah menimbulkan kerusakan besar pada rezim Iran dan bahwa Iran tidak memiliki banyak rudal balistik yang tersisa,” kata dia dikutip dari Aljazeera, Ahad (22/3/2026).
Dia menambahkan kepada Aljazeera perpanjangan perang dan meningkatnya biayanya akan membuat pemerintahan Netanyahu tidak mampu mempromosikan bahkan pencapaian taktis yang diraih pada awal perang.
Mengenai dampak pidato Perdana Menteri Israel yang mengacu pada sejarah dan agama, Abu Awad menjelaskan pidato tersebut mungkin berhasil dalam jangka pendek yang mungkin bertahan selama beberapa pekan atau mungkin beberapa bulan di tengah keyakinan yang semakin kuat di kalangan masyarakat Israel akan perlunya menyelesaikan konfrontasi saat ini.
Dia mencatat keyakinan ini telah mengakar tidak hanya pada Netanyahu tetapi juga pada seluruh Israel, termasuk oposisi yang tak kalah ekstrem pada tahap ini.
“Suasana umum cenderung mengakhiri ancaman secara tuntas untuk mencegah terulangnya di masa depan,” ujar dia.
Namun demikian, Abu Awad menyoroti adanya pertanyaan mendasar yang belum terjawab oleh Israel hingga saat ini, yaitu sejauh mana kemampuannya menanggung biaya perang jangka panjang.
Dia mengatakan, kelanjutan serangan Iran dengan intensitas seperti ini berarti semakin banyak infrastruktur yang hancur, semakin banyak korban luka dan tewas, kemunduran ekonomi, serta terganggunya kehidupan di Israel.
“Skenario ini tidak pernah diperkirakan oleh pemerintah Israel, dan hingga saat ini mereka belum memiliki jawaban yang jelas untuk menghadapinya,” ujar dia.
Di akhir pembicaraannya, Abu Awad menjelaskan berlanjutnya serangan Iran memberikan alasan tambahan bagi Netanyahu untuk melanjutkan perang.
Hal itu meningkatkan legitimasi perang ini di dalam Israel, dan mendorong dilanjutkannya tekanan terhadap Amerika Serikat agar memainkan peran yang lebih besar melawan Iran.
Kepala Kantor Aljazeera di Ramallah, Walid Al-Omari, menyebutkan serangan yang menargetkan Dimona dan Arad telah menyebabkan kerusakan parah.
Lebih dari 20 bangunan di Arad mengalami kerusakan, sebagian di antaranya hancur total atau harus dibongkar, selain itu satu bangunan di Dimona hancur dan delapan bangunan lainnya rusak.
Dia juga menyoroti wilayah-wilayah tersebut terletak dekat dengan reaktor Dimona, salah satu lokasi paling sensitif di Israel, yang jaraknya hanya sekitar 13 kilometer dari kota tersebut.
Dalam negeri, Al-Omari menjelaskan pihak berwenang Israel telah memperketat pembatasan pasca serangan terbaru, dengan membatalkan keputusan untuk membuka sekolah dan menundanya secara bertahap hingga Selasa, serta memberlakukan pembatasan terhadap kerumunan.
Dia menambahkan bahwa pihak berwenang melarang kerumunan lebih dari 50 orang di daerah-daerah yang memiliki tempat perlindungan, sebagai antisipasi terhadap serangan baru.
Di akhir pembicaraannya, Al-Omari mencatat perkembangan ini kembali memunculkan pertanyaan di dalam Israel mengenai efektivitas sistem pertahanan.
Rudal-rudal ini membuat orang meragukan kebenaran pernyataan yang dikeluarkan oleh perdana menteri dan pejabat tinggi mengenai penghancuran kemampuan rudal Iran.
Dia juga mencatat bahwa pernyataan para pemimpin militer dan politik baru-baru ini, meskipun menegaskan perlunya ketahanan, mencerminkan kekhawatiran dan mengindikasikan bahwa perang mungkin akan berkepanjangan, seiring berlanjutnya serangan dan meluasnya jangkauan geografisnya.
Data lapangan menunjukkan rudal Iran jatuh di kota Dimona, selatan Israel, sementara Channel 12 Israel mengonfirmasi bahwa 20 orang terluka di 12 lokasi di wilayah tersebut.
Televisi Iran mengumumkan bahwa serangan tersebut merupakan balasan atas serangan musuh terhadap fasilitas nuklir Natanz, sambil menegaskan prinsip balasan setimpal.
Dilansir Aljazeera, Ahad (22/3/2026) jurnalis Salam Khader menjelaskan melalui peta interaktif detail geografis Kota Dimona yang terbagi menjadi dua bagian utama yaitu bagian perumahan yang terletak di barat laut wilayah tersebut dan bagian selatan yang menampung reaktor nuklir Israel.
Menurut peta interaktif tersebut, rudal tersebut jatuh di pusat kota Dimona dan bukan di reaktor itu sendiri, dengan jarak antara kota dan reaktor sekitar 14 kilometer.
Nilai strategis reaktor
Sementara itu, pakar militer Brigadir Jenderal Elias Hanna mengatakan 12 korban luka di lokasi sasaran di Dimona menegaskan bahwa Teheran menggunakan rudal cluster dalam serangan ini.
Perlu dicatat bahwa rudal cluster meledak pada ketinggian 7 kilometer di atas permukaan tanah dan melepaskan antara 20 hingga 80 bom cluster yang masing-masing beratnya 7 kilogram, serta menyebar dalam lingkaran berdiameter 8 kilometer.
Menurut pandangan Hanna—dalam analisis militer di saluran Aljazeera—serangan terhadap kota Dimona merupakan sinyal yang jelas terhadap reaktor nuklir yang memiliki nilai strategis besar, sambil mencatat bahwa Israel memiliki sekitar 60 bom nuklir dan menerapkan strategi kerahasiaan.
Hanna mengemukakan beberapa kemungkinan yang memungkinkan rudal Iran menembus pertahanan Israel, di antaranya berbagai faktor seperti kesalahan manusia, kesalahan teknis, dan gangguan algoritma, serta perubahan nyata dalam desain dan kualitas rudal.
Ketepatan rudal Iran
Di sisi lain, pakar militer Kolonel Nadhal Abu Zeid berpendapat bahwa Iran berusaha menerapkan prinsip proporsionalitas dengan menargetkan reaktor demi reaktor, menjelaskan bahwa Dimona dihuni oleh 36 ribu penduduk dan menjadi lokasi Pusat Penelitian Nuklir Shimon Peres.
Dia mencatat ini bukan serangan pertama terhadap Dimona, yang menunjukkan upaya berulang Iran untuk meningkatkan akurasi tanpa berhasil mencapai serangan langsung hingga saat ini.
Abu Zeid mengaitkan eskalasi militer dengan langkah-langkah diplomatik Iran, di mana pernyataan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menunjukkan keterbukaan terhadap Jepang dan India, dengan mengizinkan kapal-kapal Jepang melintasi Selat Hormuz meskipun negara tersebut merupakan sekutu Amerika.
Dia menilai keselarasan antara eskalasi militer dan diplomasi ini mungkin merupakan bentuk eskalasi yang bertujuan untuk meredakan ketegangan.
Mengenai dimensi strategis operasi tersebut, Hanna menjelaskan Iran mengadopsi prinsip eskalasi horizontal, sambil menyoroti perbedaan antara menyerang ladang minyak yang tidak berdampak pada pasar energi global dengan menyerang lokasi-lokasi memiliki nilai strategis yang sangat besar.
Perlawanan balasan rudal-rudal Iran menciptakan petaka di wilayah pendudukan Zionis Israel. Pada Ahad (22/3/2026) dini hari, rudal-rudal balasan Iran menghancurkan wilayah Arad.
Rudal-rudal balasan Iran, juga menghantam kawasan fasilitas nuklir Zionis Israel yang berada di Dimona, Negev. Ratusan warga zionis diyakini tewas dalam serangan balasan itu, dan rutasan lainnya kritis.
Pemimpin Zionis Benjamin Netanyahu, pun bereaksi dengan mengatakan serangan balasan Iran menjadi pengalaman yang pahit bagi warganya.
“Ini adalah malam yang sulit dalam peperangan untuk masa depan kita,” kata Netanyahu melalui akun media sosial (medsos) X @IsraeliPM, Ahad (22/3/2026). Netanyahu, si penjahat perang menurut Mahkamah Pidana Internasional (ICC) itu mengatakan, akan ada serangan lanjutan yang akan dia lakukan terhadap Iran. “Kami bertekad untuk terus menyerang musuh kami,” ujar dia.
Anadolu Agency melaporkan, rudal-rudal dari serangan balasan Iran ke Arad menghancurkan sedikitnya 20 gedung dan bangunan.
Dari dokumentasi kehancuran yang tersebar di berbagai pemberitaan dan platform Telegram, terlihat rudal-rudal Iran yang menghantam wilayah pendudukan Arad tanpa berhasil dicegat oleh sistem pertahanan zionis.
Dokumentasi-dokumentasi itu juga memperlihatkan dampak langsung rudal-rudal Iran yang meratakan bangunan-bangunan setinggi lebih dari 10 lantai.
“Rudal-rudal Iran, menghancurkan sedikitnya 20 bangunan di Arad yang berada di sebelah selatan pendudukan Israel,” begitu dalam laporan Anadolu, Ahad (22/3/2026).
Dari laporan sementara, menurut Anadolu, serangan-serangan rudal balasan Iran itu ditaksir menewaskan banyak orang.
“Seratus orang lebih mengalami kritis, enam dipastikan tewas, dan ratusan lainnya dievakuasi ke rumah sakit,” begitu dalam laporan tersebut. Sementara Aljazirah melaporkan, otoritas zionis menerbitkan status darurat rumah sakit di Arad.
Sebelum serangan balasan rudal-rudal ke Arad, Iran juga menembakkan misil berdaya ledak besar ke Dimona yang merupakan kawasan fasilitas nuklir Zionis Israel. Aljazirah mengatakan, peluru kendali atau rudal yang ditembakan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) membuat sedikitnya 39 warga zionis mengalami kritis.
Ledakan besar dari serangan balasan Iran tersebut juga menghancurkan sebuah gedung tiga lantai.
“Rudal Iran menghantam kawasan Dimona yang merupakan lokasi fasilitas nuklir Israel,” begitu dalam laporan Aljazirah yang dikutip Ahad (22/3/2026).
Masih menurut Aljazeera yang mengacu pada media pemberitaan di Teheran mengatakan, serangan rudal Iran ke fasilitas nuklir tersebut, balasan atas serangan Zionis Israel dan Amerika Serikat (AS) yang juga menargetkan fasilitas pengayaan uranium Iran di Natanz, Sabtu (21/3/2026).
Israel dan Amerika Serikat melancarkan serangan bersama terhadap Iran pada Sabtu (28/2/2026), dengan suara ledakan terdengar di ibu kota Teheran dan sejumlah kota lain, termasuk Qom, Isfahan, Kermanshah, dan Karaj.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan serangan terhadap Iran, dengan mengatakan bahwa ia baru saja memulai operasi militer berskala besar di Iran.
Trump menambahkan, “Tujuan kami adalah melindungi rakyat Amerika dengan menghilangkan ancaman yang akan datang dari rezim Iran.”
Presiden AS mengatakan, “Rezim Iran adalah kelompok jahat yang terdiri dari orang-orang kejam dan buruk… Iran tidak boleh memiliki senjata nuklir.”
Menteri Pertahanan Israel mengatakan bahwa Tel Aviv telah melancarkan serangan kedua terhadap Iran, dan seorang pejabat Amerika Serikat mengkonfirmasi kepada Al Jazeera bahwa pasukan Amerika Serikat turut serta dalam serangan tersebut, yang diperkirakan akan berskala besar dan tidak terbatas pada serangan terbatas.
Kantor berita Iran melaporkan bahwa beberapa ledakan terdengar di ibu kota Iran, Teheran, dan laporan berita Iran menyebutkan bahwa ledakan lain terjadi di kota Qom, Isfahan, Kermanshah, dan Karaj.
Dia menambahkan bahwa ledakan baru terdengar di Isfahan.
Jaringan berita Amerika Serikat CNN mengutip dua sumber yang mengatakan bahwa militer AS berencana untuk melanjutkan serangan selama beberapa hari.
Radio militer Israel mengutip sumber militer yang mengatakan bahwa sebagian dari serangan pertama terhadap Iran menargetkan tokoh-tokoh penting dan dampaknya sedang diverifikasi.
Kantor berita Iran Mehr melaporkan bahwa layanan seluler terputus di beberapa wilayah di ibu kota Teheran.
Saluran 12 Israel mengutip sumber yang mengatakan bahwa puluhan target milik rezim di Iran telah menjadi sasaran.
Penutupan di Israel
Pemerintah Israel mengumumkan penutupan sekolah-sekolah di Israel dan melarang pertemuan publik serta mengimbau warga Israel untuk bekerja dari rumah.
Tentara Israel mengatakan bahwa sirene peringatan telah dibunyikan di seluruh Israel dalam beberapa menit terakhir.
Menteri Transportasi Israel mengumumkan bahwa warga Israel dilarang mengakses semua bandara sampai pemberitahuan lebih lanjut.
Media Israel melaporkan bahwa wilayah udara Israel ditutup sepenuhnya, dan lembaga penyiaran resmi Israel melaporkan bahwa pesawat sipil asing yang sedang dalam perjalanan ke Israel kembali ke tempat asal karena serangan tersebut.
Saluran 13 Israel mengutip sumber keamanan yang tidak disebutkan namanya yang mengatakan bahwa serangan itu adalah serangan bersama Israel-AS dan telah direncanakan selama beberapa bulan.
Iran, pun membalas serangan tersebut dengan mengirimkan drone-drone serbu serta rudal ke wilayah pendudukan Israel.
Bahkan militer Iran, pun membalas serangan-serangan itu dengan mengirimkan drone-drone penyerbu ke pangkalan-pangkalan militer AS di negara-negara kawasan Timur Tengah (Timteng) lainnya.
Serangan balasan Iran, menghantam pangkalan-pangkalan militer AS yang berada di Qatar, Kuwait, dan negara-negara Arab lainnya.
Otoritas militer Iran, dalam sebuah pemberitaan internasional memastikan untuk bertahan, dan membalas setiap serangan militer yang dilakukan sepihak oleh Zionis Israel, dan AS.







