Kurikulum Berbasis Cinta Resmi Diluncurkan Menag Nasarudin Umar, Solusi Atasi Kekeringan Batin dan Bullying di Sekolah

Kurikulum Berbasis Cinta Resmi Diluncurkan Menag Nasarudin Umar, Solusi Atasi Kekeringan Batin dan Bullying di Sekolah
Kemenag resmi meluncurkan Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) [Foto: Rahadian Bagaskara/Kemenag]

Lintas12.com, Jakarta – Menag luncurkan Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) atasi kekeringan batin, bullying, & kekerasan. Diikuti 305.344 guru daring. Simak kabar beritanya hanya di laman Lintas 12 News.

Dunia pendidikan Indonesia sedang diguncang fenomena sunyi namun berbahaya: kekeringan batin. Angka bullying, kekerasan, hingga kebencian meroket. Namun, Kementerian Agama (Kemenag) hari ini meluncurkan “senjata” baru yang revolusioner: Kurikulum Berbasis Cinta (KBC).

Menteri Agama, Nasarudin Umar, secara tegas menyatakan bahwa KBC bukan sekadar gonta-ganti kurikulum. Ini adalah paradigma pembasuh dahaga spiritual.

“Kita tidak ingin melahirkan anak didik yang kering batinnya, hanya tajam pikirannya. Yang kita harapkan adalah pikirannya tajam tapi hatinya juga subur,” ujar Menag di Jakarta, Rabu (22/4/2026).

Mengapa Kurikulum Berbasis Cinta Mendesak?

Menurut Menag, ancaman terbesar pendidikan saat ini adalah melahirkan manusia cerdas namun gersang empati. Kurikulum Berbasis Cinta hadir untuk menyelaraskan kecerdasan intelektual dengan kematangan emosional dan spiritual.

“Tidak semua produktif itu berkah. Dan tidak mungkin ada berkah tanpa produktif. Anak-anak kita harus menjadi pribadi yang produktif sekaligus membawa ketenangan,” tambahnya.

Belajar Mandiri KBC: Gerakan Masif 305.344 Guru

Tidak hanya wacana, Kemenag langsung bergerak. Program Belajar Mandiri KBC secara daring telah diikuti oleh 305.344 peserta. Angka ini menunjukkan geliat guru di era digital untuk berubah.

Kepala Badan Moderasi Beragama, Muhammad Ali Ramdhani, menjelaskan bahwa pelatihan ini bertujuan menginternalisasi pemaknaan Kurikulum Berbasis Cinta hingga ke akar.

“Pelaksanaan diklat secara online juga menjadi strategi pemerataan akses pelatihan, sehingga guru di seluruh pelosok dapat memperoleh kesempatan yang sama untuk berkembang,” ungkap Menag.

Target Besar: Sekolah Jadi Rumah Cinta, Bukan Sarang Bullying

Target utama KBC adalah menciptakan ekosistem pendidikan yang harmonis dan inklusif. Para guru didorong menjadi agen utama penyebar nilai cinta, empati, dan kepedulian sosial.

“Sehingga mereka akan bertoleransi satu sama lain, mereka akan mencintai sesamanya, bahkan sesama makhluknya dan lingkungan hidupnya,” imbuh Menag.

Kurikulum Berbasis Cinta diharapkan menjadi gerakan nasional yang membumikan nilai cinta dalam pendidikan, dengan sinergi antara pemerintah, guru, dan masyarakat. [*dik]


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *