Hari Buku dan Hak Cipta Sedunia 2024: PR Besar Indonesia soal Pembajakan dan Minimnya Akses Baca

Hari Buku dan Hak Cipta Sedunia 2024: PR Besar Indonesia soal Pembajakan dan Minimnya Akses Baca
Buku-buku Anda mencerminkan kepribadian Anda. [Gambar: DepositPhotos]

lintas12.com, Jakarta – Hari Buku dan Hak Cipta Sedunia 2024 jadi pengingat. Ikapi ungkap pembajakan merajalela & akses baca anak minim. Ini PR Indonesia. Simak informasi selengkapnya hanya di laman Lintas 12 News.

Setiap tanggal 23 April, dunia memperingati Hari Buku dan Hak Cipta Sedunia. Namun di balik perayaan tersebut, Indonesia masih menghadapi sejumlah pekerjaan rumah (PR) serius. Mulai dari maraknya pembajakan buku di Indonesia hingga rendahnya akses baca bagi anak-anak.

Ketua Umum Ikatan Penerbit Indonesia (Ikapi), Arys Hilman, mengingatkan bahwa peringatan tahun ini seharusnya menjadi momentum evaluasi, bukan sekadar seremonial.

Pembajakan Buku di Indonesia, Ancaman Nyata bagi Penerbit dan Penulis

Arys menyebutkan, nama lengkap peringatan ini adalah Hari Buku dan Hak Cipta Sedunia. Sayangnya, aspek hak cipta kerap diabaikan.

“Pembajakan buku ada di mana-mana. Para penerbit dan penulis tercekik habis-habisan oleh para pembajak buku,” ujarnya dalam pernyataan pada Kamis (23/4/2026).

Berdasarkan survei Ikapi pada 2021 yang melibatkan lebih dari 130 penerbit, sekitar 75 persen penerbit menemukan bukunya dibajak dan dijual di lokapasar. Kerugian akibat pembajakan ditaksir mencapai ratusan miliar rupiah.

PR Indonesia Berikutnya – Akses Baca Anak Masih Minim

Selain pembajakan, akses baca anak minim menjadi sorotan utama. Hari Buku dan Hak Cipta Sedunia sejatinya memiliki misi memberikan buku untuk anak-anak dan anak muda.

“Tetapi apa yang kita lihat di negeri kita, anak-anak kita tidak membaca buku secara cukup memadai. Kenapa? Karena akses terhadap bahan bacaan tidak memadai,” kata Arys.

Ia menambahkan, perpustakaan umumnya hanya tersedia di pusat kota. Akibatnya, banyak anak tidak menikmati bacaan berkualitas, dan budaya baca Indonesia pun sulit tumbuh.

Data Perpusnas: Kekurangan Perpustakaan Hingga 54,69%

Fakta di lapangan mendukung pernyataan tersebut. Kekurangan perpustakaan di Indonesia masih sangat tinggi.

Berdasarkan Kajian Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat (IPLM) 2024 oleh Perpustakaan Nasional (Perpusnas):

  • Total perpustakaan nasional pada 2024: 178.756 unit
  • Standar kebutuhan: 385.388 perpustakaan
  • Artinya, baru terpenuhi 45,31%, dengan kekurangan 54,69% atau setara 210.784 perpustakaan.

Selain jumlah, koleksi buku juga jauh dari standar. Total koleksi perpustakaan nasional 2024 sebanyak 211.426.907 judul, padahal standar yang dibutuhkan mencapai 557.392.974 judul. Artinya, terjadi kekurangan koleksi 62,07% atau 345.966.067 judul.

Catatan Khusus: Jakarta Pernah Berniat Jadi World Book Capital

Arys juga menyoroti bahwa Hari Buku dan Hak Cipta Sedunia selalu berbarengan dengan penunjukan World Book Capital oleh UNESCO atau Ibu Kota Buku Dunia.

*“Kuala Lumpur pernah menyandang gelar tersebut pada 2020. Bangkok juga, tahun 2013. Jakarta pernah punya niat pada tahun 2021, tetapi niat itu perlahan-lahan pudar dan ditelan angin lalu,”* ujarnya.

Ia mengingatkan agar tidak berkhayal terlalu tinggi. “Nanti kalau jatuh dalam kenyataan, sakitnya sih beneran. Salam literasi.”

Kesimpulan Redaksi

Peringatan Hari Buku dan Hak Cipta Sedunia tahun ini seharusnya menjadi titik tolak bagi Pemerintah, penerbit, dan masyarakat. PR Indonesia tidak hanya soal hukum hak cipta yang lemah, tetapi juga bagaimana membangun ekosistem literasi dari akar: perpustakaan yang memadai dan budaya baca yang kuat.

Ikapi berharap ada langkah nyata pasca peringatan ini. Sebab tanpa aksi, semangat Hari Buku dan Hak Cipta Sedunia hanya akan menjadi seremonial belaka.[*izah]


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *