LINTAS12.COM, WASHINGTON — Trump hentikan operasi di Selat Hormuz setelah Saudi & Kuwait tutup akses pangkalan AS. Krisis diplomatik mengguncang kawasan Teluk. Simak kabar berita selengkapnya di laman Lintas 12 News di bawah ini.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump secara mengejutkan menghentikan operasi pengawalan kapal di Selat Hormuz, hanya sekitar 36 jam setelah diumumkan. Keputusan mendadak ini dipicu oleh penolakan dua sekutu utama AS di kawasan Teluk: Arab Saudi dan Kuwait.
Berdasarkan laporan NBC News yang dikutip Lintas12.com, kedua negara secara tegas menangguhkan akses militer AS terhadap pangkalan dan wilayah udara mereka. Langkah ini menjadi pukulan telak bagi rencana ambisius Trump yang sebelumnya diklaim sebagai upaya membuka jalur pelayaran yang terganggu akibat ancaman Iran.
Saudi dan Kuwait Tutup Akses Pangkalan AS
Menurut dua pejabat AS yang tidak disebutkan namanya, Riyadh memberi tahu Washington bahwa mereka tidak akan mengizinkan pesawat militer AS terbang dari Pangkalan Udara Pangeran Sultan di tenggara Riyadh, maupun melintasi wilayah udara Saudi. Hal serupa dilakukan Kuwait yang dinilai krusial untuk akses penerbangan militer AS di kawasan.
Upaya komunikasi antara Trump dan Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman disebut belum membuahkan hasil. Sumber Saudi justru menyebut bahwa pengumuman Project Freedom via media sosial mengejutkan para pemimpin Teluk.
“Situasi berkembang sangat cepat dan berlangsung secara real time,” ujar sumber Saudi kepada NBC News.
Trump Hentikan Operasi di Selat Hormuz: Project Freedom Dijeda
Dalam unggahan terbarunya, Trump menyatakan bahwa Project Freedom dijeda sementara untuk melihat peluang tercapainya perjanjian damai guna mengakhiri perang dengan Iran. Padahal, sehari sebelumnya ia mengeklaim operasi itu berjalan sukses dengan dua kapal berbendera AS berhasil melintasi Selat Hormuz.
Seorang pejabat Gedung Putih membantah adanya unsur kejutan terhadap sekutu regional, namun diplomat Timur Tengah lainnya menyebutkan bahwa koordinasi AS dengan Oman justru dilakukan setelah Trump mengumumkan operasi tersebut.
Akses Militer AS di Teluk Terganjal
Militer AS selama ini menempatkan pesawat tempur, tanker pengisi bahan bakar, dan sistem pertahanan udara di Pangkalan Udara Pangeran Sultan. Dukungan akses wilayah udara dari negara-negara Teluk dinilai sangat penting bagi operasi AS di kawasan.
Dalam istilah militer AS, izin ini dikenal sebagai access, basing, and overflight (ABO):
- Arab Saudi dan Yordania – penting untuk penempatan pesawat
- Kuwait – krusial untuk akses penerbangan
- Oman – berperan dalam dukungan logistik udara dan laut
Meski operasi dihentikan, Pentagon disebut masih menempatkan dua kelompok kapal induk serta menambah dukungan logistik dan persenjataan di wilayah Teluk.
Dorongan Damai dengan Iran
Di sisi lain, pemerintahan Trump terus mendorong kesepakatan damai dengan Iran. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baghaei, mengatakan Teheran sedang meninjau proposal perdamaian terbaru dari AS. Pakistan bertindak sebagai mediator.
Sumber Saudi juga menambahkan bahwa Riyadh mendukung upaya diplomatik Pakistan untuk memediasi kesepakatan antara Iran dan AS guna mengakhiri konflik.
Kesimpulan:
Keputusan Trump hentikan operasi di Selat Hormuz menjadi bukti betapa rapuhnya koordinasi AS dengan sekutu tradisionalnya di Timur Tengah. Saudi dan Kuwait tutup akses pangkalan AS untuk mendukung operasi tersebut, memaksa Washington menarik napas panjang dan beralih ke jalur diplomatik. (*Sod)







