Mendikdasmen Paparkan 5 Model SMK Unggulan untuk Perkuat Kompetensi Lulusan Vokasi

Mendikdasmen Paparkan 5 Model SMK Unggulan untuk Perkuat Kompetensi Lulusan Vokasi
Tangkapan layar-Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu'ti menyampaikan pesan kunci dalam Peluncuran Program Kelas Kebekerjaan Luar Negeri (3+1) SMK yang dipantau melalui YouTube Direktorat SMK-Kemendikdasmen di Jakarta Pusat pada Rabu (20/5/2026).

Jakarta, Lintas12.com – Mendikdasmen Abdul Mu’ti luncurkan 5 model SMK unggulan untuk perkuat kompetensi lulusan vokasi, siapkan pekerja lokal dan global melalui kebijakan inovatif. Simak kabar berita selengkapnya di laman Lintas 12 News di bawah ini.


Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti secara resmi memaparkan lima model kebijakan revolusioner untuk memperkuat kompetensi lulusan vokasi Sekolah Menengah Kejuruan (SMK). Langkah ini diambil agar para siswa tidak hanya siap kerja di tingkat lokal, tetapi juga mampu bersaing sebagai tenaga kerja global.

Dalam acara Peluncuran Program Kelas Kebekerjaan Luar Negeri (3+1) SMK yang disiarkan langsung melalui YouTube Direktorat SMK-Kemendikdasmen pada Rabu, Mu’ti menegaskan bahwa transformasi ini adalah jawaban atas tantangan dunia kerja yang terus berubah.

“Kami berusaha agar SMK ini bisa menjawab tantangan melalui peningkatan kualitas dan mutu. Ini semua adalah bagian dari upaya kami untuk memenuhi hak konstitusi bagi warga negara,” ujar Mendikdasmen Abdul Mu’ti di Jakarta.

Baca Ini:  Kemendikdasmen Perluas PJJ Pendidikan Menengah, Target 3.500 Anak Tidak Sekolah Kembali Belajar

Lima Model SMUnggulan untuk Daya Saing Lulusan Vokasi

Berikut adalah 5 model SMK yang dirancang untuk meningkatkan daya saing lulusan:

1. SMK Reguler Relevan dengan Dunia Kerja

Model pertama adalah penyelenggaraan SMK reguler yang menawarkan berbagai program keahlian. Kini, program tersebut diarahkan agar lebih fleksibel dan relevan dengan kebutuhan industri.

“Kami dorong agar program keahlian itu lebih relevan dengan kebutuhan di dunia kerja. Kami memberikan keluasan kepada pemerintah provinsi dan kementerian agar program keahlian bisa fleksibel,” jelas Mu’ti.

2. SMK Berbasis Keunggulan Lokal untuk Tekan Migrasi

Model kedua mengembangkan program studi berdasarkan potensi daerah, seperti pertanian, peternakan, hingga industri kerajinan. Kebijakan ini diharapkan mampu menekan angka migrasi generasi muda sekaligus menggerakkan ekonomi lokal.

Baca Ini:  Mentan Ajak Kampus Jadi Motor Inovasi Kawal Hilirisasi Pertanian, ITS Siap Produksi Traktor Perahu

3. SMK Tailor Made dengan Kontrak Kerja Pasti

Model ketiga adalah SMK tailor made yang kurikulum dan program studinya disusun berdasarkan kebutuhan spesifik suatu perusahaan. Siswa yang mengikuti program ini sudah terikat kontrak untuk bekerja di perusahaan mitra setelah lulus.

4. SMK Tematik untuk Karier di Luar Negeri

Keempat, SMK tematik dirancang khusus mempersiapkan siswa berkarier di mancanegara. Para murid dibekali kemahiran bahasa asing dan pemahaman budaya negara mitra sejak masa pembelajaran.

5. SMK 3+1: Satu Tahun Langsung Terjun ke Dunia Kerja

Model kelima adalah pengembangan SMK 3+1, di mana selain tiga tahun belajar reguler, siswa mendapatkan satu tahun tambahan untuk langsung masuk dunia kerja, baik di dalam maupun luar negeri.

Baca Ini:  Mahfud MD Tegaskan Etika Akademik Kunci Utama Cegah Korupsi Sejak Dini di Kampus

Kelas Kebekerjaan Luar Negeri sebagai Terobosan Baru

Peluncuran Program Kelas Kebekerjaan Luar Negeri (3+1) menjadi momentum penting bagi dunia pendidikan vokasi di Indonesia. Dengan model ini, cara memperkuat daya saing lulusan SMK tidak lagi hanya teori, tetapi aksi nyata kolaborasi antara sekolah, industri, dan pemerintah.

Kesimpulan

Kelima model kebijakan ini menunjukkan komitmen serius Mendikdasmen dalam menyiapkan pekerja lokal dan global yang kompeten. Mulai dari SMK reguler fleksibel, berbasis lokal, tailor made, tematik, hingga SMK 3+1, semua diarahkan pada satu tujuan: lulusan vokasi yang unggul, terserap industri, dan siap bersaing di kancah internasional. [*kin]


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *