Kemendikdasmen Perluas PJJ Pendidikan Menengah, Target 3.500 Anak Tidak Sekolah Kembali Belajar

Kemendikdasmen Perluas PJJ Pendidikan Menengah, Target 3.500 Anak Tidak Sekolah Kembali Belajar
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu'ti

Lintas12.com, Jakarta – Kemendikdasmen perluas PJJ ke 34 provinsi untuk pendidikan bermutu. Target 3.500 ATS agar kembali sekolah. Solusi inklusif dan berkeadilan. Simak kabar berita selengkapnya hanya di lintas 12 news.

Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) resmi memperluas implementasi pembelajaran jarak jauh (PJJ) untuk jenjang pendidikan menengah di 34 provinsi. Langkah ini merupakan bagian dari upaya menghadirkan pendidikan bermutu bagi seluruh anak Indonesia, tanpa terkecuali.

Targetnya ambisius: menjangkau 3.500 anak tidak sekolah (ATS) agar kembali mengenyam pendidikan inklusif dan berkeadilan. Saat ini, berdasarkan data Pusdatin Kemendikdasmen, jumlah ATS jenjang pendidikan menengah mencapai sekitar 1,13 juta dari total 4 juta ATS di Indonesia.

PJJ: Solusi Nyata Pemerataan Akses Pendidikan

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu’ti, menegaskan bahwa program ini bukan sekadar alternatif, melainkan solusi nyata untuk mengatasi hambatan geografis, ekonomi, dan sosial.

“Kita harus menekankan bahwa pendidikan tidak lagi dipandang hanya sebatas kegiatan formal di ruang kelas, melainkan sebagai proses pembelajaran yang dapat menjangkau seluruh lapisan masyarakat. Dengan paradigma tersebut, kami ingin menjangkau mereka yang tidak terjangkau,” ujar Abdul Mu’ti dalam pernyataan tertulis di Jakarta, Sabtu.

Menurutnya, akses pendidikan yang merata adalah kunci utama menuju Indonesia yang lebih maju. Program PJJ ini menjadi jawaban atas tantangan selama ini, terutama bagi anak-anak di daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T).

Dorong Teknologi Digital dan Super Aplikasi Rumah Pendidikan

Selain aspek jangkauan, Kemendikdasmen juga terus mendorong pengembangan pembelajaran berbasis teknologi. Rencana pembangunan studio pembelajaran tengah digodok, yang memungkinkan guru-guru terbaik mengajar secara langsung (real-time) ke berbagai daerah.

“Super aplikasi Rumah Pendidikan telah kami kembangkan sebagai bagian dari digitalisasi pembelajaran yang dapat diakses oleh siapa pun. Implementasi PJJ juga harus berfokus pada pembentukan karakter dan penguatan kompetensi,” tambah Abdul Mu’ti.

20 Sekolah Jadi Pionir, Prioritas untuk Daerah 3T dan SILN

Direktur Jenderal Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus, Tatang Muttaqin, menjelaskan bahwa pada tahap awal, 20 sekolah telah ditetapkan sebagai mitra dan pionir pelaksanaan PJJ pendidikan menengah.

Sasaran prioritas program ini meliputi:

  • Daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T)
  • Daerah dengan angka anak tidak sekolah tinggi
  • Daerah rawan bencana
  • Sekolah Indonesia Luar Negeri (SILN), terutama untuk anak pekerja migran Indonesia

“Secara lebih luas, PJJ kami selenggarakan untuk menjangkau ATS dengan rentang usia 16 hingga 18 tahun. Persyaratan utamanya adalah anak Indonesia dengan status ATS,” jelas Tatang.

Menuju Pendidikan Berkeadilan untuk Semua

Dengan perluasan PJJ ini, Kemendikdasmen berharap tidak ada lagi anak Indonesia yang putus sekolah hanya karena jarak, biaya, atau keterbatasan akses. Program ini menjadi bukti nyata bahwa pendidikan bermutu bisa hadir di mana saja, kapan saja, dan untuk siapa saja.

Lintas12.com akan terus memantau perkembangan implementasi pembelajaran jarak jauh ini, termasuk kesiapan infrastruktur digital dan dampaknya terhadap penurunan angka ATS di Indonesia. (*sod)


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *