Komisi I DPR Minta PBB Evaluasi Perlindungan Pasukan UNIFIL Usai Praka Rico Gugur di Lebanon

Komisi I DPR Minta PBB Evaluasi Perlindungan Pasukan UNIFIL Usai Praka Rico Gugur di Lebanon
Anggota Komisi I DPR RI Sukamta. [Foto: HO-DPR]

Lintas12.com, Jakarta – Komisi I DPR minta PBB evaluasi mekanisme perlindungan pasukan UNIFIL pascagugurnya Praka Rico akibat peluru kendali di Lebanon. Simak kabar berita selengkapnya di laman Lintas 12 News.

Wakil Ketua Komisi I DPR RI, Sukamta, secara tegas meminta Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk segera melakukan evaluasi UNIFIL oleh PBB secara menyeluruh. Evaluasi ini difokuskan pada mekanisme perlindungan pasukan perdamaian dalam misi United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL), yang dinilai belum sepenuhnya sesuai dengan realitas ancaman di lapangan.

“Kami mendorong PBB untuk melakukan evaluasi menyeluruh terhadap mandat dan mekanisme perlindungan pasukan UNIFIL, agar sesuai dengan realitas ancaman yang berkembang di lapangan,” ujar Sukamta dalam keterangan pers yang diterima Lintas12.com, Sabtu [25/04/2026].

Sorotan Komisi I DPR atas Gugurnya Praka Rico

Legislator asal Daerah Istimewa Yogyakarta itu menekankan bahwa perlindungan personel misi perdamaian PBB tidak boleh diabaikan oleh pihak mana pun, termasuk pihak-pihak yang berkonflik. Hal ini menyusul gugurnya Praka Rico Pramudia, prajurit TNI yang menjadi korban peluru kendali saat bertugas di Lebanon.

Komisi I DPR dan UNIFIL juga mendorong adanya investigasi transparan dan akuntabel atas insiden tersebut.

“Kami memandang bahwa perlindungan terhadap personel PBB harus menjadi prioritas utama dan tidak boleh diabaikan oleh pihak mana pun, termasuk dalam dinamika konflik yang melibatkan Israel dan aktor lainnya di kawasan,” tegas Sukamta.

Pemerintah Diminta Tinjau Ulang Pola Penugasan

Selain mendorong evaluasi ke PBB, Sukamta juga meminta Pemerintah Indonesia untuk melakukan peninjauan komprehensif terhadap aspek keamanan dan pola penugasan prajurit dalam misi perdamaian Indonesia di Lebanon.

“Pemerintah Indonesia perlu melakukan peninjauan komprehensif terhadap aspek keamanan, kesiapan, dan pola penugasan prajurit dalam misi perdamaian, tanpa mengurangi komitmen Indonesia sebagai kontributor aktif dalam menjaga stabilitas global,” tuturnya.

Menurutnya, perdamaian dunia tidak boleh dibayar dengan pengorbanan yang sia-sia. Setiap prajurit yang gugur harus menjadi momentum evaluasi sistem perlindungan yang lebih kuat, serta komitmen bersama komunitas internasional.

Eskalasi Ancaman di Lapangan Meningkat

Sukamta mengingatkan bahwa risiko pasukan penjaga perdamaian kian meningkat. Markas UNIFIL sendiri menjadi titik serangan pihak berkonflik, seperti yang dialami Praka Rico pada Rabu (29/3) lalu akibat ledakan peluru kendali.

“Serangan yang terjadi di wilayah operasi UNIFIL menunjukkan bahwa situasi di lapangan telah mengalami eskalasi signifikan sehingga menempatkan pasukan penjaga perdamaian dalam risiko yang semakin tinggi,” ucapnya.

Duka Mendalam, Total Empat Prajurit TNI Gugur di Lebanon

Dengan gugurnya Praka Rico, total prajurit TNI yang gugur di Lebanon menjadi empat orang. Sebelumnya, tercatat Mayor Infanteri Anumerta Zulmi Aditya Iskandar, Serka Anumerta Muhammad Nur Ichwan, dan Kopda Anumerta Farizal Rhomadhon.

“Kami menyampaikan dukacita yang mendalam atas gugurnya prajurit terbaik TNI dalam misi UNIFIL di Lebanon. Pengorbanan ini adalah bentuk nyata komitmen Indonesia dalam menjaga perdamaian dunia, sebagaimana amanat konstitusi,” kata Sukamta.

“Semoga para prajurit yang gugur mendapatkan tempat terbaik di sisi Tuhan Yang Maha Esa dan keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan,” pungkasnya.[*finku]


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *