Vape Sama Berisikonya dengan Rokok Konvensional, Pakar FKUI Tegaskan Tidak Ada yang Aman

Vape Sama Berisikonya dengan Rokok Konvensional, Pakar FKUI Tegaskan Tidak Ada yang Aman
Vape Sama Berisikonya dengan Rokok Konvensional [ilustrasi: Pixabay]

LINTAS12.COM, JAKARTA | Guru besar FKUI Prof. Faisal Yunus ungkap vape dan rokok sama-sama berbahaya. Aerosol vape mengandung nikotin tinggi, logam berat, hingga risiko perokok pasif. Simak penjelasan lengkapnya di halaman Lintas 12 News ini!

Selama ini banyak perokok aktif beralih ke rokok elektronik atau vape dengan keyakinan bahwa pilihan tersebut lebih aman dibanding rokok konvensional. Namun, anggapan itu dibantah tegas oleh pakar paru-paru terkemuka dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI).

Guru Besar Departemen Pulmonologi dan Kedokteran Respirasi FKUI, Prof. Dr. Faisal Yunus, Ph.D., Sp.P(K), menegaskan bahwa vape dan rokok konvensional sama-sama berbahaya bagi kesehatan. Bahkan, tidak ada satu pun bentuk konsumsi tembakau atau nikotin yang bisa dianggap sebagai alternatif yang aman.

“Rokok konvensional melalui proses pembakaran menghasilkan ribuan zat kimia, termasuk karsinogen kuat yang meningkatkan risiko kanker paru, PPOK, dan penyakit kardiovaskular,” ujar Prof. Faisal dikutip dari laman ANTARA, Rabu (12/4/2026).

Vape Bukan ‘Uap Air’ Biasa, Tapi Aerosol Beracun

Menurut Prof. Faisal, meski vape tidak melalui proses pembakaran dan tidak menghasilkan tar sebanyak rokok konvensional, bahaya yang ditimbulkan tidak kalah serius. Vape bekerja dengan memanaskan cairan hingga berubah menjadi aerosol—bukan sekadar uap air.

“Aerosol vape mengandung nikotin dalam kadar yang sering lebih tinggi, serta zat seperti formaldehid, asetaldehid, dan logam berat. Zat-zat ini dapat menimbulkan inflamasi paru, stres oksidatif, dan gangguan fungsi pembuluh darah,” jelasnya.

Ia menambahkan, perbedaan mekanisme antara rokok dan vape tidak menghilangkan risiko kesehatan. “Hanya mengubah jenis dan mekanisme dampaknya,” tegasnya.

Bahaya Juga untuk Orang di Sekitar: Perokok Pasif Vape Nyata

Tak hanya bagi pengguna aktif, Prof. Faisal juga menyoroti risiko paparan terhadap orang di sekitar. Meskipun tidak menghasilkan asap seperti rokok konvensional, vape tetap melepaskan aerosol yang mengandung partikel halus dan zat kimia berbahaya.

“Pajanan ini, terutama di ruang tertutup, tetap berpotensi menimbulkan efek kesehatan. Anggapan bahwa vape hanya menghasilkan ‘uap air’ tidak tepat secara ilmiah,” kata Ketua Kolegium Pulmonologi dan Kedokteran Respirasi Indonesia itu.

Dengan kata lain, perokok pasif vape juga berisiko menghirup nikotin dan zat toksik lainnya. “Risiko vape tidak hanya terbatas pada pengguna aktif, tetapi juga berdampak pada lingkungan sekitar,” tambahnya.

Kesimpulan: Tidak Ada Bentuk Konsumsi yang Aman

Prof. Faisal mengajak masyarakat untuk memahami fakta ilmiah ini dengan bijak. Baik rokok konvensional maupun vape sama-sama menyimpan risiko kesehatan yang serius.

“Masyarakat perlu memahami bahwa baik rokok konvensional maupun vape memiliki risiko kesehatan, sehingga tidak ada bentuk konsumsi yang benar-benar aman,” pungkasnya.

Untuk itu, langkah terbaik bukanlah mengganti rokok konvensional dengan vape, melainkan berhenti merokok sepenuhnya dengan bantuan metode yang terbukti aman dan efektif.


Penulis: Redaksi Lintas12
Sumber: ANTARA, FKUI
Editor: Tim Editor Lintas12


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *