TOKYO (Lintas 12 News) – Presiden Prabowo Subianto meminta pengusaha Jepang untuk melapor langsung kepadanya jika menemui hambatan investasi di Indonesia. Pemerintah menyiapkan satgas khusus untuk menghilangkan birokrasi yang menghambat.
Pemerintah Indonesia membuka pintu selebar-lebarnya bagi para investor, khususnya dari Jepang. Presiden Prabowo Subianto bahkan mempersilakan para pengusaha Negeri Sakura untuk langsung menyampaikan keluhan jika menemui kendala saat berinvestasi di tanah air.
Pernyataan tegas tersebut disampaikan Presiden Prabowo dalam acara Forum Bisnis Indonesia-Jepang di Tokyo, Senin (30/3). Menurutnya, komunikasi langsung ini penting untuk memastikan bahwa setiap masalah dapat segera ditangani tanpa berlarut-larut.
“Jika Anda memiliki kendala, jangan ragu untuk menyampaikannya kepada saya. Bisa melalui duta besar, perwakilan Anda, MITI, JETRO, atau Keidanren. Saya siap menerima masukan,” ujar Prabowo mengutip pernyataan resmi dari Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI.
Dalam pertemuan tersebut, Presiden menekankan bahwa dirinya menerapkan pendekatan kepemimpinan modern yang proaktif. Ia menyebut peran seorang presiden saat ini tidak ubahnya seperti CEO perusahaan yang harus cepat turun tangan menyelesaikan persoalan di lapangan.
Untuk memastikan eksekusi di lapangan berjalan cepat, Pemerintah Indonesia telah membentuk satuan tugas (satgas) khusus penghilang hambatan investasi, atau dikenal dengan de-bottlenecking task force. Satgas ini dirancang untuk mengatasi berbagai masalah, mulai dari kelambatan administrasi hingga praktik-praktik yang merugikan investor.
“Perusahaan mana pun di Indonesia, baik asing maupun domestik, yang merasa mengalami hambatan administratif, penundaan, atau bahkan perlakuan yang tidak semestinya, dapat langsung menghubungi satuan tugas ini,” tutur Prabowo.
Lebih lanjut, Kepala Negara menegaskan komitmen pemerintah untuk melakukan deregulasi. Berbagai aturan yang dinilai tidak rasional dan menjadi penghambat investasi akan disederhanakan. Langkah ini menjadi bagian dari strategi percepatan pertumbuhan ekonomi nasional di tengah kompetisi global yang semakin ketat.
“Kami berupaya menyingkirkan peraturan yang terkadang tidak rasional. Ini memang tidak mudah, tetapi kami bertekad untuk menyederhanakan prosesnya,” tambahnya.
Di akhir forum, Presiden Prabowo juga mengajak para pelaku usaha Jepang untuk memperkuat kemitraan strategis. Ia melihat adanya sinergi yang kuat antara teknologi dan pengalaman Jepang dengan kekayaan sumber daya serta potensi pasar yang besar di Indonesia.
“Saya percaya kita harus bekerja sama. Peningkatan perjanjian kemitraan ekonomi menjadi pembuka peluang baru. Inilah saat yang tepat untuk memperdalam kerja sama kita. Kami siap melangkah maju,” pungkas Prabowo.







