LINTAS12.COM, JAKARTA – Arkeolog BRIN tanggapi kritik peneliti Prancis soal lukisan gua tertua di Pulau Muna. Metode U/Th disebut bias? Ini klarifikasi lengkapnya di laman kabar berita pilihan terpercaya, Lintas 12 News di bawah ini.
Dunia arkeologi global sempat dihebohkan oleh sikap skeptis peneliti Prancis, Georges Sauvet, yang menolak klaim lukisan gua tertua di dunia berasal dari Pulau Muna, Sulawesi. Menanggapi hal itu, arkeolog BRIN Dr. Adhi Agus Oktaviana buka suara. Baginya, kritik tersebut adalah hal biasa dan justru sehat bagi perkembangan ilmu pengetahuan.
“Kritik riset yang disampaikan lewat artikel di jurnal itu wajar. Biasa terjadi. Perdebatannya ilmiah,” ujar Adhi Agus kepada awak media, Sabtu (30/5/2026).
Ia menegaskan bahwa diskusi yang baik harus dilakukan melalui artikel jurnal ilmiah peer review, bukan sekadar opini. Lantas, bagaimana seharusnya peneliti bersikap saat mendapat kritik tajam soal metodologi? “Ya harus dibuktikan atau disanggah secara empiris, dengan data dan metode yang jelas,” tegasnya.
Polemik Lukisan Cap Tangan 71.000 Tahun
Sebelumnya, Georges Sauvet mengguncang komunitas riset dengan artikelnya yang berjudul ‘Uranium-thorium dating: the race towards the earliest rock art’, terbit 20 Mei lalu di Aplomb Publication. Ia mempertanyakan metodologi penentuan umur lukisan cap tangan di Leang Metanduno, Pulau Muna, yang diperkirakan berusia 71.000 hingga 67.000 tahun lalu.
Sauvet menuding metode Uranium/Thorium (U/Th) yang digunakan mengandung bias dari dua hal utama: asumsi sistem tertutup vs terbuka dalam peluruhan uranium, serta keengganan peneliti menggunakan metode penanggalan lain.
Menurut Sauvet, rembesan air melalui lapisan kalsit dapat melarutkan uranium, membuat perhitungan rasio thorium-uranium tidak akurat. Ia memberi contoh kontradiksi di Gua Nerja, Spanyol, di mana metode U/Th menghasilkan usia ~118.000 tahun, sementara karbon-14 menunjukkan ~19.000 tahun.
Jawaban Arkeolog BRIN: Metode LA-U-Series Sudah Tepat
Menanggapi hal itu, Adhi Agus Oktaviana dari BRIN mengakui bahwa kritik Sauvet “shahih” secara teoretis. Namun, ia bersikeras bahwa metode LA-U-Series closed system yang mereka gunakan adalah yang terbaik untuk kondisi gua di Indonesia.
“Kritik Pak Sauvet bisa-bisa saja. Tapi soal kebocoran air, sejauh ini sudah bisa ditanggulangi. Pembedahan sedimen kalsit kami lakukan secara amat teliti, sampai bisa memetakan pertumbuhan corraloid di atas pigmen warna lukisan gua,” jelasnya.
Ia juga membela kredibilitas laboratorium GRAG Southern Cross University yang menangani analisis. Laboratorium tersebut tidak hanya menganalisis lukisan gua, tetapi juga fosil dari berbagai situs terkenal di dunia, dengan hasil terbit di jurnal bergengsi.
Analogi “Kue Lapis” dari Griffith University
Dalam pemaparannya di BRIN, Prof. Maxime Aubert dari Griffith University dan Southern Cross University menjelaskan teknik laser-ablation uranium-series (LA-U-series) pada lapisan kalsit mikroskopis.
“Prinsipnya sederhana. Air hujan meresap ke batu kapur, melarutkan kalsium dan uranium, lalu mengendap di atas lukisan. Kami membandingkan atom uranium dan thorium dalam lapisan itu,” jelas Maxime.
Ia menggunakan analogi “kue lapis” : lukisan adalah lapisan terbawah, endapan kalsit adalah lapisan di atasnya. Jika lapisan kalsit berada di atas lukisan, itu memberi usia minimum (lukisan setua lapisan itu). Jika di bawah, itu usia maksimum.
“Di sinilah keunggulan metode kami. Bukan sekadar menebak, tapi menghitung atom secara presisi,” tambahnya.
Kritik yang Membangun, Bukan Sensasi
Adhi Agus menolak jika kritik Sauvet dipoles menjadi sensasi media. Ia justru mengapresiasi perdebatan ilmiah yang terbuka.
“Diskusi yang baik ya seperti ini. Arkeolog BRIN tidak anti-kritik. Tapi setiap sanggahan harus dibuktikan dengan data, bukan sekadar teori. Lukisan gua tertua di Pulau Muna tetap menjadi temuan luar biasa bagi seni cadas Indonesia,” pungkasnya.
Dengan adanya kritik dari peneliti Prancis ini, diharapkan ke depan akan ada lebih banyak uji silang metode penanggalan, termasuk kemungkinan penggunaan karbon-14 pada sampel organik di situs yang sama.
Kesimpulan Redaksi Lintas 12 News:
Perdebatan antara arkeolog BRIN dan Georges Sauvet menunjukkan bahwa ilmu arkeologi terus bergerak. Meski metode U/Th mendapat tantangan, tim peneliti Indonesia optimistis dengan ketelitian analisis mereka. Yang jelas, Pulau Muna kini semakin dikenal sebagai lokasi kunci dalam sejarah seni cadas dunia. (*)
Penulis: Tim Lintas 12 News
Editor: Redaksi
Sumber: BRIN, Griffith University, Publikasi Ilmiah







