Sosial  

Liburan Usai, Mood Swing Datang? Ini 5 Kiat Sederhana dari Kemenkes Atasi Post-Holiday Blues

Liburan Usai, Mood Swing Datang? Ini 5 Kiat Sederhana dari Kemenkes Atasi Post-Holiday Blues
Mudik Lebaran

Jakarta – Pulang mudik Lebaran memang menyenangkan, tapi tak jarang meninggalkan rasa sedih, lelah, hingga kehilangan motivasi. Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menyebut fenomena ini sebagai post-holiday blues. Simak tips mudah seperti transisi bertahap hingga jaga koneksi sosial untuk mengembalikan semangat kerja dan menjaga kesehatan mental pasca-liburan.

Euforia mudik Lebaran memang membawa kebahagiaan tersendiri. Namun, tak jarang setelah momen silaturahmi usai dan aktivitas normal kembali, banyak orang justru merasakan perasaan yang kurang nyaman. Mulai dari rasa sedih mendalam, kelelahan berlebihan, kecemasan, hingga kehilangan motivasi. Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menyebut kondisi ini sebagai post-holiday blues, dan ternyata ada cara-cara sederhana untuk mengatasinya.

Direktur Pelayanan Kesehatan Kelompok Rentan Kemenkes, Imran Pambudi, menjelaskan bahwa fenomena ini bukan sekadar perasaan biasa. Ada faktor-faktor pemicu seperti perjalanan mudik yang melelahkan, tekanan finansial, hingga ekspektasi sosial untuk tampil sukses di mata keluarga.

Baca Ini:  Generasi Z Rentan Stres Kerja? Tantangan Resiliensi Mental di Dunia Kerja

“Berdasarkan survei World Travel & Tourism Council (WTTC) pada 2023, sekitar 41 persen pemudik di Indonesia mengalami gejala kecemasan hingga depresi ringan dan sedang,” ujar Imran di Jakarta, Kamis.

Dampaknya pun tidak bisa dianggap sepele. Produktivitas kerja bisa menurun, angka ketidakhadiran kerja meningkat, dan jika dibiarkan, risiko gangguan mental yang lebih serius bisa mengintai. Sayangnya, di Indonesia, masih banyak yang enggan mencari bantuan karena stigma yang beredar di masyarakat.

Namun, ada kabar baik. Post-holiday blues bisa diatasi dengan langkah-langkah sederhana yang hanya butuh kesadaran diri dan konsistensi. Berikut kiat-kiat dari Kemenkes:

  1. Beri Waktu Transisi
    Jangan langsung memforsir diri dengan pekerjaan. Luangkan satu hingga dua hari untuk mengatur ulang rutinitas sebelum kembali bekerja penuh.
  2. Kembali ke Rutinitas Sehat
    Pastikan pola tidur teratur, makan dengan gizi seimbang, dan lakukan olahraga ringan. Ini membantu tubuh dan pikiran beradaptasi lebih cepat.
  3. Jaga Koneksi dengan Orang Tersayang
    Rasa kehilangan setelah berpisah dengan keluarga bisa dikurangi dengan menjadwalkan panggilan video atau sekadar ngobrol dengan sahabat.
  4. Batasi Media Sosial
    Hindari terlalu banyak berselancar di media sosial. Seringkali, membandingkan kehidupan sendiri dengan unggahan orang lain justru memperburuk suasana hati.
  5. Manfaatkan Ruang Publik
    Habiskan waktu di taman atau komunitas olahraga. Hal ini bisa mengurangi rasa kesepian dan menghadirkan energi positif.
Baca Ini:  Mendagri Tito Karnavian: Gaji PPPK Bisa Terbayar Jika Daerah Berani Efisiensi Anggaran

Imran juga menekankan pentingnya mencari bantuan profesional jika gejala yang dirasakan tidak kunjung membaik. “Jika gejala berlanjut lebih dari dua minggu atau sudah mengganggu aktivitas sehari-hari, jangan ragu konsultasi dengan psikolog atau psikiater. Sekarang sudah banyak layanan daring yang mudah diakses,” tambahnya.

Fenomena post-holiday blues ini diperkirakan akan lebih terasa pada arus mudik Lebaran 2026, yang diprediksi menjadi salah satu yang terbesar dalam sejarah. Kementerian Perhubungan mencatat lebih dari 120 juta perjalanan terjadi pada periode mudik, dengan puncak kepadatan di jalur tol Trans-Jawa dan jalur kereta api.

Menariknya, fenomena ini tidak hanya terjadi di Indonesia. Negara seperti Amerika Serikat, Inggris, Australia, dan Kanada juga mencatat peningkatan masalah kesehatan mental setelah libur panjang Natal dan Tahun Baru. Di AS, misalnya, sekitar 6,2 persen orang dewasa mengalami gejala Christmas Depression setiap tahunnya.

Baca Ini:  DAHSYAT! Baznas & MUI Kolaborasi Sedekah Pendidikan Rp600 Juta untuk Pulihkan Sumatera Pasca Bencana

Di dalam negeri, kelompok rentan seperti remaja, mahasiswa, perantau, perempuan, dan lansia dinilai paling berisiko mengalami dampak ini. Perantau misalnya, kerap merasa kesepian setelah kembali ke kota, jauh dari kehangatan keluarga di kampung halaman.

Imran menegaskan bahwa post-holiday blues bukanlah tanda kelemahan. “Ini adalah fenomena manusiawi yang bisa diatasi dengan dukungan sosial, kesadaran diri, dan intervensi yang tepat. Dengan memahami dinamika ini, Lebaran bisa menjadi momen untuk memperkuat ketahanan mental kita bersama,” pungkasnya.

 


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *