Lintas12.com, JAKARTA – Wamentan RI terima Wakil Menteri Polandia. Kerja sama pertanian, investasi, dan teknologi untuk ketahanan pangan hadapi dinamika global. Simak kabar berita selengkapnya di Lintas 12 News.
Di tengah tekanan global akibat konflik, perang, dan disrupsi rantai pasok, Indonesia dan Polandia memilih jalan konkret: menjajaki kerja sama pertanian strategis. Bukan sekadar dagang biasa, kolaborasi ini mencakup teknologi, investasi, hingga riset pertanian berkelanjutan.
Kesepakatan teknis itu mengemuka setelah Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) RI, Sudaryono, menerima kunjungan Wakil Menteri Pertanian dan Pembangunan Pedesaan Polandia, Małgorzata Gromadzka, di Kantor Pusat Kementerian Pertanian, Jakarta, Senin (…).
Indonesia Buka Diri, Polandia Incar Pasar Asia
“Saya menerima Wakil Menteri Pertanian Polandia, kaitannya bagaimana kita memperkuat hubungan bilateral, khususnya di bidang pertanian,” ujar Sudaryono.
Ia menegaskan Indonesia mengambil posisi terbuka dan nonblok. “Kita kerja sama dengan siapa pun, termasuk memanfaatkan perjanjian perdagangan bebas dengan Uni Eropa. Kita ingin kerja sama dagang ekspor-impor, juga investasi,” tegasnya.
Polandia pun melihat peluang besar. “Saya sangat senang dapat berdiskusi tentang produk pertanian. Polandia adalah pintu masuk pasar Eropa, dan Indonesia mitra penting di Asia,” kata Gromadzka.
Komoditas Strategis: Daging, Susu, Gandum, hingga Berry
Dalam pertemuan teknis, kedua negara membuka peluang sekaligus menggarisbawahi tantangan:
- Polandia mendorong ekspor daging sapi, produk susu, gandum, dan buah berry.
- Indonesia menekankan standar kesehatan, sertifikasi veteriner, dan audit ketat sebelum akses pasar dibuka.
Untuk komoditas unggas, Indonesia bersikap kehati-hatian demi keamanan hayati dan perlindungan produksi dalam negeri. Namun peluang tetap terbuka bagi komoditas lain yang memenuhi persyaratan teknis dan kebutuhan pasar domestik.
Kelompok Kerja Teknis Dibentuk, Akses Pasar Dipercepat
Langkah paling konkret dari pertemuan ini adalah kesepakatan membentuk kelompok kerja teknis (working group). Tujuannya: mempercepat penyelesaian protokol perdagangan, terutama untuk daging sapi dan produk susu.
“Kita bicara bagaimana meningkatkan kerja sama dagang, investasi, hingga penelitian. Agrikultur sangat penting karena menyangkut makanan rakyat,” kata Sudaryono.
Kelompok kerja ini akan mengurus proses audit, penyelarasan standar, hingga implementasi perdagangan langsung setelah persyaratan terpenuhi.
Tak Hanya Dagang, tapi Ketahanan Pangan Jangka Panjang
Wamentan Sudaryono menekankan bahwa pertanian memiliki dimensi strategis melampaui perdagangan semata.
“Bagaimana kita mengamankan makanan untuk Indonesia, dan Polandia juga menjaga makanan untuk mereka sendiri. Di tengah krisis global, kerja sama bilateral seperti ini makin penting,” tegasnya.
Ke depan, kerja sama juga akan diperluas melalui:
- Pertemuan pelaku usaha kedua negara
- Penjajakan investasi langsung
- Nota kesepahaman antar pemerintah untuk kerangka jangka panjang
Polandia: Hubungan Saling Menguntungkan dan Berkelanjutan
Gromadzka menilai Indonesia dan Polandia memiliki karakteristik produksi yang saling melengkapi. Ia berharap kerja sama ini tak hanya meningkatkan volume perdagangan, tetapi juga menciptakan hubungan yang lebih seimbang dan berkelanjutan.
“Saya percaya kita memiliki banyak kesempatan untuk meningkatkan kerja sama bilateral, terutama menghadapi tantangan pangan global yang semakin kompleks,” pungkasnya. [*finku]







