Anggota DPR Sebut Prabowo ke Luar Negeri Jaga Keseimbangan Geopolitik, Bukan Pemborosan

Anggota DPR Sebut Prabowo ke Luar Negeri Jaga Keseimbangan Geopolitik, Bukan Pemborosan
Wakil Ketua Komisi XIII DPR RI Sugiat Santoso memberikan keterangan kepasa persndi Kawasan Parlemen, Jakarta, Senin (29/9/2025).

Lintas12.com, Jakarta – Kunjungan Presiden Prabowo ke luar negeri disebut anggota DPR jaga keseimbangan geopolitik dan konversi nikel. Ini bukan pemborosan, tapi diplomasi ofensif. Simak kabar berita pilihan terpercaya selengkapnya di laman Lintas 12 News di bawah ini.


Wakil Ketua Komisi XIII DPR RI, Sugiat Santoso, menegaskan bahwa kunjungan Presiden Prabowo Subianto ke luar negeri bukanlah pemborosan anggaran, melainkan langkah strategis untuk menjaga keseimbangan geopolitik Indonesia di tengah ketegangan global.

Menurut Sugiat, kritik yang menyebut perjalanan presiden sebagai pemborosan merupakan cara pandang parsial dari pihak yang tidak memahami skala kepentingan nasional.

“Indonesia sedang dipimpin oleh seorang patriot yang tahu persis bagaimana cara memenangkan kepentingan nasional di luar negeri,” ujar Sugiat dalam keterangan pers di Jakarta, Jumat (29/5).

Baca Ini:  Wacana WFH, Mendagri pastikan layanan esensial akan tetap berjalan

Konversi Nikel dan Posisi Geopolitik Jadi Investasi Nyata

Salah satu agenda utama Prabowo ke luar negeri, kata Sugiat, adalah mengonversi keunggulan komoditas nikel dan posisi geopolitik Indonesia menjadi keuntungan konkret.

“Indonesia tidak sekadar berkunjung. Pak Prabowo sedang mengonversi keunggulan komoditas nikel dan posisi geopolitik kita menjadi investasi nyata dan benteng keamanan sebelum jendela peluang global ini tertutup,” tegasnya.

Politik luar negeri bebas aktif yang dijalankan Prabowo, menurut Sugiat, kini bertransformasi menjadi diplomasi ofensif—sebuah strategi proaktif dalam memperjuangkan kepentingan nasional, bukan sekadar reaktif terhadap tekanan asing.

Tiga Negara Eropa yang Dikunjungi Prabowo

Pada akhir Mei 2026 ini, Presiden Prabowo mengunjungi tiga negara Eropa: Prancis, Austria, dan Hungaria. Ketiganya dinilai memiliki posisi strategis yang dibutuhkan Indonesia, baik dalam hal teknologi pertahanan, energi, maupun akses pasar.

  • Prancis – Transfer teknologi pertahanan dan alutsista
  • Austria – Kerja sama energi hijau dan industri strategis
  • Hungaria – Jembatan diplomasi ke kawasan Eropa Tengah
Baca Ini:  Pimpinan MPR Apresiasi Ditjen Pesantren: Jangan Tambah Birokrasi, Tapi Majukan Pesantren!

Diplomasi Ofensif Prabowo, Bukan Mengekor Kekuatan Besar

Sugiat mencontohkan, kunjungan ke Prancis adalah bukti nyata bahwa Indonesia tidak mengekor ke Amerika, tidak tunduk ke China, dan tidak takut pada tekanan NATO.

“Indonesia tetap berhubungan dengan Rusia demi mengamankan pasokan minyak dan elpiji murah untuk rakyat. Itu wujud keseimbangan geopolitik yang dijaga Prabowo,” ujarnya.

Ia juga menyoroti bahwa nilai transfer teknologi pertahanan, pengamanan kedaulatan di Laut Natuna Utara, dan posisi tawar Indonesia sebagai kekuatan regional jauh lebih besar dibandingkan sekadar biaya operasional perjalanan presiden.

“Penilaian perjalanan presiden hanya dari ongkos tiket pesawat adalah cara berpikir yang tidak sebanding,” tegas Sugiat Santoso, anggota DPR dari Komisi XIII.

Baca Ini:  Prabowo dan Anwar Ibrahim Bahas Konflik Iran-Israel

Kesimpulan

Melalui diplomasi ofensif dan kunjungan strategis ke Eropa, Presiden Prabowo dinilai berhasil menjaga keseimbangan geopolitik sekaligus mengamankan kepentingan nasional. Bukan pemborosan, melainkan investasi jangka panjang bagi kedaulatan dan kesejahteraan rakyat Indonesia. [*sod]


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *