Jakarta (Lintas 12 News) – Presiden Prabowo instruksikan kampus jadi motor pembangunan kota. Mahasiswa praktik langsung bantu kepala daerah, riset perumahan untuk rakyat. Simak berita selengkapnya di halaman ini.
Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto mulai mengubah wajah pendidikan tinggi di Indonesia. Bukan sekadar mencetak sarjana, kampus kini diminta terjun langsung sebagai arsitek solusi bagi masalah riil rakyat: kota yang semrawut dan rumah yang mahal.
Dalam arahan tertutup yang baru diungkap ke publik, Senin (3/2/2025), Presiden Prabowo secara tegas menginstruksikan optimalisasi peran strategis perguruan tinggi untuk menata ruang kota dan menangani krisis perumahan.
Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Brian Yuliarto, menyampaikan bahwa Presiden ingin para dosen dan mahasiswa tidak lagi hanya berada di menara gading.
“Pak Presiden memberi petunjuk: Fakultas Planologi dan Arsitektur di setiap kampus harus membantu kepala daerah. Jadikan tata ruang kota atau kabupaten sebagai tempat praktik mahasiswa sekaligus lokasi riset dosen. Dengan begitu, kampus benar-benar berdampak nyata,” ujar Brian di Jakarta.
Laboratorium Hidup: Mahasiswa “Bedah” Kota Bersama Bupati & Walikota
Bayangkan, sebuah kabupaten memiliki masalah kemacetan atau permukiman kumuh. Nantinya, mahasiswa planologi dan arsitek dari kampus setempat akan turun langsung melakukan pemetaan, penelitian, hingga memberikan rekomendasi tata kota. Bupati atau walikota tidak perlu lagi pusing mencari konsultan mahal. Mereka punya “dokter kota” dari kampus sendiri.
Pendekatan ini disebut-sebut sebagai lompatan besar. Kampus bukan lagi pabrik ijazah, melainkan problem solver yang gerak cepat.
Dari Riset Perumahan hingga Analisis Lingkungan
Instruksi kedua Presiden Prabowo tak kalah strategis: riset perumahan. Menurut Brian, Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (Maruarar Sirait) akan segera mengoordinasikan sisi riset dengan perguruan tinggi.
“Kampus harus melakukan kajian mendalam untuk mengatasi permasalahan perumahan. Mulai dari bahan bangunan murah, desain rumah layak huni, hingga analisis dampak lingkungan (amdal) yang berkelanjutan,” tambah Brian.
Pesan penting mengemuka: pembangunan kota dan rumah tidak boleh cepat saja. Harus hijau, ramah lingkungan, dan berkelanjutan.
“Kita Tak Kurang Orang Pintar, Tapi Keberanian Turun Tangan”
Menutup arahannya, Presiden Prabowo menegaskan filosofi perubahan ini. Menurutnya, Indonesia tidak pernah kekurangan sumber daya manusia cerdas. Persoalannya selama ini adalah keberanian untuk keluar dari zona nyaman dan menyelesaikan masalah rakyat secara langsung.
Dengan instruksi ini, mulai sekarang, mahasiswa planologi dan arsitektur bisa jadi akan lebih sering berkantor di balai kota dan kampung-kampung daripada sekadar di ruang gambar kampus. Sebuah wajah baru pendidikan Indonesia yang lebih membumi.






